Lebih Dekat Dengan H. Syahrudin Semat Sesepuh Perantau Kerinci

0
698

H. Syahrudin Semad, adalah salah seorang sesepuh perantau Kerinci di Jabodetabek, tokoh senior ini merupakan mantan ketua HKK JS tahun 2000an, dewasa ini tokoh kharismatik ini juga dipercayakan sebagai pembina HKKN-JS.

Dilahirkan di larik tengah, Luhan Pemangku Rajo, Dusun Sungai penuh (sekarang termasuk kedalam wilayah Kelurahan Sungaipenuh, Kecamatan Sungaipenuh, Kota Sungaipenuh, Propinsi Jambi).27 Desember 1939, Syahrudin Semat dikenal sebagai sosok yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Syahrudin Semat, merupakan putra dari pasangan Bapak Semat dan ibu Fatimah Susun , ayahnya adalah seorang pemuka masyarakat Dusun Bernik yang juga seorang guru Sekolah Rakyat. Selain sebagai guru, pada musim ke sawah beliau juga ikut bertani.

Orangtuanya juga dikenal aktif membina dan mengembangkan kesenian daerah Kerinci. Bersama, Bapak Senin Ilyas dan Bapak Rivai, mereka melestarikan 17 lagu asli Kerinci dengan mendokumentasikannya kedalam sebuah buku yang diberi judul “Maai Batalae”.

Pada tahun 1962 , mereka sempat membawa Tim Kesenian Kerinci memerahkan Pembukaan Ganefo (Games of New Emerging Forces) di Gelora Bung Karno Jakarta, sekaligus mengisi acara di Istana Presiden Bogor dan Jakarta.

H. Syahrudin mempunyai sepuluh orang saudara. Yang masih ada sekarang 5 orang.Tiga orang berprofesi sebagai PNS yaitu Dra. Meiyarti (Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sumatera Barat di Padang), Marhayati SPd (guru SMP 2 di Sungaipenuh), dan Prof. Dr. Khairinal (Dosen Universitas Jambi di Jambi).

Dua orang lagi adalah Mahriza dan Mastiari, keduanya ibu rumahtangga di Sungaipenuh. Orangtua kandung Prof. Khairinal keduanya asli orang Koto Menjidin.

” meski demikian, kami sudah bersaudara karena ibu Sari Madinah, orangtua kandung Prof. Khairinal, menjadi ibu kedua saya sejak kami masih kecil,” sebutnya.

Perjalanan karir H. Syahrudin Semat diawali ketika pertama kalinya memperoleh penghasilan tetap
Setelah menjadi pengajar pada Institut Pertanian Bogor.Merasa sudah punya penghasilan, ia memberanikan diri untuk mencari pasangan hidup.

Tahun 1970, saya menikah dengan seorang mahasiswi tingkat III Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta. Mahasiswi ini juga berasal dari Kerinci dan masih ada hubungan keluarga. Dia terpaksa harus berhenti meneruskan pendidikannya yang tinggal 1 tahun lagi ke jenjang Sarjana Muda. Namanya Adriana. Ayahnya adalah Haji Adenan, seorang pengusaha pada zaman Belanda, ibunya bernama Fatimah Rohana, yang sangat setia mendampingi suaminya. Fatimah Rohana adalah kakak kandung Bapak Laksamana Muda H. Syofyan Huri, SH, Ngabi, seorang perintis-pembina-penasehat Himpunan Keluarga Kerinci Jakarta dan Sekitarnya. Alamat mertua saya di Kerinci adalah Jalan Sudirman No.2 Sungaipenuh (depan Bank BRI). Rumah ini pernah dihuni oleh Bupati pada periode awal Kabupaten Kerinci,terang Syahrudin.

Dari perkawinannya ini ,ia dikaruniai tiga orang anak, dua perempuan dan satu lelaki , ketiga nya masing-masing Indriani Survyta, Gusriadi dan Widya Septina.

Syahrudin Semad dikenal sebagai sosok yang sangat peduli dengan keluarga, buktinya setelah ayahnya meninggal tahun 1969, dua tahun setelah itu ia memboyong ibu dan adik-adiknya untuk tinggal bersamanya di Bogor bahkan Dr. Khairinal juga sempat tinggal bersamanya saat menuntut ilmu di IKIP jakarta

Syahrudin Semat kecil memulai pendidikannya di Sekolah Rakyat Kota Sungaipenuh pada tahun 1946. Awalnya letak gedung sekolahnya adalah pada lokasi Bank Jambi sekarang. Dulu dikenal sebagai gedung governemen yang dibangun oleh pemerintah kolonal Belanda. Ketika agersi militer Belanda masuk Kerinci tahun 1947, semua penduduk mengungsi ke luar kota dan gedung ini dipakai oleh Belanda. Sejak itu rumah sekolah berpindah-pindah.

Baca Juga  HIMAPINDO mengadakan Talk Show Kepemudaan di Universitas Pelita Bangsa

lulus SR tahun 1953 ia melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Pasar Seberang (sekarang SMP I) dan selesai tahun 1956. Kemudian masuk ke SMA Negeri (sekarang SMA I Kota Sungaipenuh) dan lulus tahun 1960. Pada masa SMA terjadi gangguan keamanan (pemberontakan PRRI-Permesta). Akibatnya semua kegiatan terutama pendidikan terganggu. Sekolah-sekolah seringkali diliburkan sehingga praktis hilang 1 tahun pelajaran.

Untuk mengisi waktu yang kosong, Syahrudin yang sudah beranjak remaja membantu orangtua ke sawah.Kala duduk di bangku SMA,  Syahrudin bersama teman-teman aktif dalam kegiatan organiisasi sosial kemasyarakatan.

Setelah lulus SMA, Syahrudin melanjutkan pendidikan ke Fakultas Pertanian, Universitas Indonesia di Bogor . Kampusnya terletak di wilayah Baranangsiang dipinggir kebun Raya Bogor. Pada tingkat II di FP-UI, ia memilih jurusan kehutanan dan mendapat beasiswa dari Departemen Penddidikan dan Kebudayaan.

Setelah mendapat beasiswa, ia mulai mandiri (menghentikan kiriman wesel dari orangtua). Selama menjadi mahasiswa kehutanan, ia harus mengikuti berbagai kegiatan kurikuler seperti praktek mengukur dan menghitung volume tegakan hutan, teknik menebang pohon, mencari patok batas hutan, cara dan teknik penanaman dan pemeliharaan hutan jati, dan sebagainya. Tugas kegiatan ini mengharuskan mahasiswa keluar masuk bahkan bermalam di hutan. Pada tahun 1964, lulus tingkat III dengan gelar sarjana muda Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

”  saat melakukan praktek umum (KKN), saya bersama beberapa teman seangkatan harus tinggal berpindah-pindah selama 6 bulan dalam hutan. Pertama di hutan jati di Saradan Barat Madiun, terus ke hutan alam di pantai selatan Malang, dilanjutkan ke hutan bambu di Banyuwangi. Walaupun berat secara fisik, namun banyak manfaatnya, yaitu memperluas wawasan dan pengetahuan, memperbanyak pengalaman hidup, serta “last but not least” menambah keuangan karena diberi uang saku oleh pemerintah, “ urainya.

Pada tingkat akhir, Syahrudin remaja memilih Bangunan Pertanian sebagai mayor, Geodesi sebagai minor dan Potret Udara sebagai pilihan. Untuk mayor, harus melakukan penelitian dan menyusun skripsi, sedangkan minor dan pilihan harus membuat karya tulis berdasarkan hasil praktek.

Sambil melaksanakan tugas akhir, ia membantu perkuliahan di beberapa mata pelajaran yaitu ekonomi umum, potret udara, geodesi, pulp dan paper, mekanika-statika, dan bangunan kehutanan. Pada tahun 1968, setelah lulus sebagai sarjana kehutanan, ia dipercaya menjadi asisten tetap pada Jurusan Mekanisasi Pertanian, Fatemeta, IPB.

Pada tahun 1984, ketika bertugas di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), ia mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan pada Economic Institute di Boulder, Colorado dan diteruskan ke University of Pittsburgh, Pennsylvania, USA. Sesuai dengan bidang pekerjaan saat itu, jurusan yang dipilihnya  Perencanaan Kota dan Daerah (Urban and Regional Planning). Setelah lulus tahun 1986, ia diterima sebagai mahasiswa doktoral pada Universitas yang sama.

saya diminta segera kembali ke Tanah Air untuk melanjutkan tugas dan kewajiban kepada Negara, rencana pendidikan terpaksa dinomorduakan,” tuturnya

TRIDHARMA PERGURUAN TINGGI

Karir sebagai PNS dilakoninya pada  tahun 1970 menjadi PNS dan staf pengajar (waktu itu dosen) pada Bagian Bangunan Pertanian. Ia menjadi pengajar di IPB selama 14 tahun (1970-1984). Selain mengajar, sesuai fungsi perguruan tinggi yaitu “tridharma”, seorang pengajar harus melakukan kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

Untuk pendidikan, selain mengajar di jurusan Mekanisasi Pertanian Fatemeta-IPB, ia juga pernah mengajar di Universitas Jenderal Sudirman (Unsud) Purwokerto dan program master Universitas Veteran Nasional (UVN) khusus untuk PNS Kabupaten Lebak di Rangkasbitung.

Selain mengajar dan membimbing mahasiswa, ia mendapat tugas mengelola sarana pendukung pendidikan yaitu perpustakaan jurusan dan menerjemahkan/menulis buku pelajaran. Saya sendiri telah menyusun 4 (empat) buah buku yaitu Bangunan Pertanian, Mekanika-Statika, dan Teori Ekonomi Pembangunan serta menerjemahkan buku Mekanika : Statika-Dinamika. Buku-buku ini disusun dan dicetak terbatas hanya untuk keperluan mahasiswa .

Baca Juga  Peduli Lingkungan, Irjen Syafril Nursal Kampanyekan Pelestarian Pohon Eboni

Di bidang penelitian tidak banyak yang bisa di lakukannya, selain karena kecilnya dana penelitian, juga karena waktu banyak tersita oleh kegiatan pengabdian masyarakat. Pilihan ini dilakukannya, selain untuk berpartisipasi dalam pemulihan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang sudah porak poranda akibat pemerintahan era orla, sekaligus untuk meringankan beban ekonomi yang ia hadapi.

Pada awal dasawarsa tujuhpuluhan, ketika Repelita I mulai dilaksanakan, dana pembangunan, termasuk untuk pendidikan, sangat minim. Pemerintah mengutamakan pemulihan infrastruktur ekonomi dan sosial yang bersifat dasar di berbagai daerah. Karenanya lembaga pendidikan tinggi belum mampu menyediakan fasilitas rumah dinas untuk staf pengajar.

“Setiap tahun saya dan keluarga harus berpindah-pindah rumah tempat tinggal seperti nomaden. Untuk menutupi kebutuhan keluarga, kontrak rumah maupun kebutuhan primer lain (pangan dan sandang), saya harus banting tulang dan berjibaku memenuhinya.
Berbagai peluang ekonomi selalu saya manfaatkan secara maksimal. Sebagai kegiatan pengabdian masyarakat di IPB, saya mengikuti beberapa kegiatan survei dan tugas bimbingan petani ke daerah-daerah pedesaan. Propinsi yang telah saya kunjungi antara lain Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, semua propinsi di Jawa, Bali, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Selatan. Pada tahun 1974,” ungkap Syahrudin

semasa Bupati Bapak Rusdi Sayuti, ia diundang sebagai pembicara dalam seminar Pembangunan Daerah di Sungaipenuh Kerinci . Penghasilan dari kegiatan tersebut sebagian ia tabung untuk modal usaha, yang kemudian dimanfaatkannya untuk membuka usaha rumah makan di Sukabumi Jawa Barat.

Untuk mengatasi kebutuhan tempat tinggal para pengajar, pada tahun 1976, pimpinan IPB mengambil kebijaksanaan (sementara) dengan memanfaatkan sebuah flat yang semula diperuntukkan bagi mahasiswa di kampus Darmaga Bogor.

“Alhamdulillah saya dan keluarga termasuk yang diberi fasiltas,” singkat nya.

Diceritakannya, untuk memecahkan masalah perumahan bagi staf pengajar secara permanen, pimpinan IPB membentuk panitia pembangunan perumahan staf pengajar IPB. Tugasnya mempelajari alternatif guna mengatasi kelangkaan tempat tinggal bagi staf pengajar IPB. Ia dan seorang staf lain ditugaskan untuk mempelajari sistem penyediaan perumahan bagi staf pengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB). Hasilnya adalah bahwa di ITB ada program pemilikan rumah sendiri (home ownership program). Program ini di laporkan kepada pimpinan IPB dan pimpinan IPB setuju untuk meniru program tersebut.

Awalnya perumahan akan dibangun pada tanah milik IPB agar biaya lebih murah dan cicilan bisa terjangkau. Setelah dipelajari dari berbagai segi, pimpinan memutuskan untuk menyerahkan pada pengembang. Saya diberi tugas lagi mempelajari kemampuan staf pengajar untuk mencicil. Setelah saya serahkan hasil analisis.

Pimpinan IPB memutuskan membangun kompleks perumahan staf pengajar IPB di Barangsiang Bogor, bekerjasama dengan pengembang. Sejak itu masalah perumahan bagi staf pengajar IPB teratasi.  juga Disini ia kebagian satu rumah .

Salah satu kegiatan pengabdian masyarakat yang cukup penting adalah keterlibatan dalam Proyek Pembinaan dan Pengembangan Produksi Daerah Transmigrasi, kerjasama antara Institut Pertanian dengan Direktorat Jenderal Transmigasi. Melalui program ini ia mulai mengenal dan berkecimpung dalam masalah kependudukan dan kemiskinan di negeri yang kaya raya sumber alam ini. Proyek ini juga menjadi jembatan bagi Syahrudin untuk berkarir pada lembaga yang sangat disegani dimasa Orde Baru yaitu Bappenas.

Bersambung ……..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here