Di Hadapan Milenial Jambi, Fasha dan Syafril Saling Memuji 

0
786
Walikota Jambi DR. Sy Fasha & Ketum BMKJ Brigjen Pol Drs H. Syafril Nursal SH MH, saling memuji di acara Jambi Future Talks (JFT) 2019 di Jakarta

KERINCIINDEPENDENT.COM,JAKARTA – Acara Jambi Future Talks yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Jambi (FKMJ) cabang Jakarta menghadirkan acara bincang dan diskusi publik yang diadakan pada Sabtu (14/09) di Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat.

Wali Kota Jambi Syarif Fasha yang menjadi tamu kehormatan sekaligus pembicara dalam panel bincang dan diskusi ini mengatakan bahwa sosok Ketua Umum Badan Musyawarah Keluarga Jambi (BMKJ) Brigjen Pol Syafril Nursal adalah pemersatu bagi banyak organisasi masyarakat yang dibentuk oleh orang-orang Jambi di wilayah Jabodetabek. 

“Saya menyebut beliau (Syafril Nursal-red) menjadi tokoh pemersatu masyarakat Jambi di wilayah Jabodetabek bahkan di seluruh Indonesia,” tutur walikota yang sedang menjabat dalam periode keduanya ini. 

Penuturan Fasha bukan tanpa alasan. Dalam pandangan Fasha, dengan keterlibatan Syafril menjadi pimpinan organisasi seperti HKKN dan BMKJ, Syafril dapat merangkul sebanyak mungkin masyarakat dari berbagai kalangan, etnis, organisasi, profesi, dan minat melalui perannya yang semakin dikenal dalam berorganisasi.  

Memiliki semangat yang sama dengan Syafril, dalam sambutannya Fasha yakin bahwa masa depan, terutama masa depan Provinsi Jambi, adalah milik kaum muda.

“Saya tidak ingin memberikan kuliah umum kepada kalian (para audiens), tetapi memberikan inspirasi untuk menatap masa depan,” tutur Fasha mengawali sharingnya dengan mahasiswa perantau asal Jambi dalam forum ini. 

Fasha juga mengamini pemaparan Syafril Nursal terkait dengan kepemimpinan dalam organisasi. Suatu organisasi akan semakin mengecil dalam suatu pemilihan untuk memilih ketua organisasi, karena ketidakpuasan pihak yang kalah sehingga berinisiatif membangun organisasi baru. 

 “Orang yang kecewa karena kalah menjadi ketua, kemudian membentuk organisasi baru. Ini yang banyak terjadi dalam kehidupan organisasi,” kata Fasha. 

Bagi Fasha, status mahasiswa membuat seseorang melihat dunia secara hitam-putih, namun tepat sehari setelah wisuda, lulusan akan melihat dunia persilatan yang sesungguhnya, terutama bagaimana mendapatkan pekerjaan, mengamalkan ilmu yang didapatkan pada jenjang pendidikan tinggi, maupun membina relasi dengan sesama manusia. Menurutnya, hanya 6 persen orang saja di Indonesia yang bisa menjadi mahasiswa, sedangkan sisanya memilih untuk bekerja tanpa meneruskan kuliah. Walikota Jambi ini yakin bahwa audiens yang adalah mahasiswa perantau asal Jambi mampu menjawab tantangan ini. 

Baca Juga  Magnet Sy. Fasha Di Acara Yudisium STIE Sakti Alam Kerinci

Menjadi pejabat pun, menurut hemat Fasha, memiliki tantangan tersendiri. Tidak ada satupun pejabat yang diwariskan, melainkan oleh keadaan. Ia menyebut mahasiswa sebagai iron stock (cadangan aset untuk masa depan), guardian of value (penyampai dan penjaga nilai kebesaran), serta menjadi agent of change (agen dari suatu perubahan).

“Tidak ada satupun perubahan tanpa peran mahasiswa. Proses perubahan pada tahun 1998 menjadi penanda akan pentingnya peran mahasiswa dalam membuat suatu perubahan,” tutur Fasha. 

Satu hal yang menarik dalam diskusi ini adalah ratusan milenial asal Jambi yang menghadiri acara melihat aksi saling puji antara Syafril dengan Fasha. Beberapa kali dalam pemaparannya,  Fasha 

yang memilih untuk turun dari panggung dan berbicara selangkah ke depan audiens acapkali memberikan pujian kepada Syafril. Syafril pun membalas dengan gestur yang mewakili ucapan terima kasihnya kepada Fasha yang menyanjung peran dan kredibilitasnya dalam mengelola dan membesarkan suatu organisasi massa. 

Menanggapi keresahan masyarakat terkait dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang disampaikan sebelumnya oleh Ketua Forum Komunikasi Mahasiswa Jambi (FKMJ) cabang Jakarta, Reza Sirait, Fasha memberikan penjelasan yang cukup sederhana.

Sebelumnya, Reza Sirait mengatakan, “Hari ini Jambi sedang mengalami kemunduran. Kabut asap selalu terjadi. Artinya apa? Pemprov Jambi tak dapat mengatasi bencana ini.” 

Hal ini rupanya telah diamati oleh Fasha sejak lama. Ia menjelaskan, ada 2 jenis angin yang saat ini berlalu-lalang di udara Tanah Air, yakni angin laut yang mengarah ke gunung, dan angin gunung yang mengarah ke laut.

“Data terakhir menunjukkan bahwa Kota Jambi tidak memiliki hot spots, begitu juga dengan beberapa kabupaten/kota di Provinsi Jambi yang tidak memproduksi kabut asap, seperti Kota Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, dan yang lainnya,” jelas Fasha. 

Fasha menjelaskan bahwa saat ini, penyebab karhutla lebih banyak terdeteksi di daerah yang berada di utara dan selatan Provinsi Jambi. Pada sisi utara, Provinsi Jambi berbatasan dengan Provinsi Riau, dan pada sisi selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan. Ketika angin bergerak dari laut ke darat, menurut Fasha, berpeluang menambah titik api, dan ketika angin bergerak dari darat ke laut dari dataran tertinggi, angin tersebutlah yang mengakumulasi dan menyebarkan kabut asap yang mengakibatkan kelumpuhan aktivitas bagi warga yang terdampak secara langsung atau tak langsung. 

Baca Juga  Polmark Indonesia: PAN Diprediksi Lolos Ambang Batas Parlemen

Menutup sambutannya, Fasha mengajak audiens untuk menghargai jerih payah orangtua dalam menguliahkan mereka, dan menjadi pribadi yang lebih baik dan membawa kemajuan.

“Orangtua kalian menaruh harapan besar terhadap kalian. Biasanya kontrak kalian kuliah hanya 5 tahun masa studi. Lebih dari itu, bukan kalian yang berdegup jantungnya, melainkan orangtua kalian. Orangtua kalian tidak menguliahkan kalian untuk jodoh atau demi punya anak,” tutur Fasha.

Ia menambahkan, bekerja di Jambi, Jakarta atau daerah lainnya sama saja, namun yang terpenting adalah memiliki kebanggaan sebagai orang-orang Jambi, terlepas di manapun mereka berada dan bekerja. 

Pada sesi tanya-jawab antara audiens dengan narasumber, Fasha juga menjawab pertanyaan pertama dari seorang mahasiswa yang merupakan pengurus dari FKMJ. Ia enggan menanggapi pertanyaan mengenai langkah politiknya dalam menyambut Pilkada Serentak 2020 dimana Provinsi Jambi menjadi daerah yang akan menyelenggarakan pilkada tersebut di tingkat provinsi.

Justru Fasha menegaskan bahwa dirinya masih memiliki “kontrak” yang adalah masa jabatannya sebagai Wali Kota Jambi pada periode keduanya saat ini. 

 “Saya masih memiliki ‘kontrak’ dengan masyarakat Kota Jambi, dan ini adalah periode kedua saya menjabat,” ucapnya.

Pun ia mengaku bahwa dirinya tidak terobsesi dengan jabatan, atau akan terfokus untuk kontestasi Pilgub Jambi ditahun mendatang.

“Saya tidak gila jabatan, melakukan apapun demi mendapatkan plat BH 1 (plat mobil dinas gubernur), jadi saya tidak akan berkomentar soal itu,” tambahnya.

Selain masih banyak pekerjaan yang belum selesai, Fasha berharap ia dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik hingga akhir masa jabatannya. 

Disampaikan Fasha, Kota Jambi telah banyak berubah, dan ia mengajak para pemuda untuk rajin pulang ke Kota Jambi, setidaknya tidak lebih dari dua tahun. “Karena Kota Jambi kini banyak berubah. Saya jamin ketika kalian pulang lebih dari dua tahun, kalian akan tersesat (di jalanan).” 

 “Saya tidak akan menjual dagelan politik, namun yang akan saya jual hanya soal Kota Jambi saja,” tandasnya menutup jawaban.  [Red]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here