H. Syahrudin Semat , Sejarah Berdirinya HKK Hingga Mendampingi Ali Murtopo Ke Kerinci

0
606

Organisasi HKKN dewasa ini telah menjelma menjadi sebuah organisasi besar yang menyatukan para perantau Kerinci di berbagai daerah di Indonesia bahkan ke luar negeri. Bagaimanakah sejarah berdirinya HKK ( sebelum bernama HKKN), berikut penuturan sesepuh parantau Kerinci H. Syahrudin Semat, yang menjadi saksi hidup pembentukan HKK dan perjuangan para perantau kerinci dalam memperjuangkan kerinci yang kami muat secara bersambung.

Kerinciindependent.com Sejak awal abad ke-19 warga Kerinci sudah mulai merantau ke luar daerah maupun ke luar negeri, terutama Malaysia. Orang Kerinci pertama merantau ke Malaysia pada awal abad ke-19 adalah Haji Abdullah Hukum (asal Sungai Abu). Semasa hidupnya pernah menjadi Panglima Sultan Selangor. Setelah itu banyak orang Kerinci merantau ke Malaysia; mereka berasal dari berbagai dusun di Kerinci. Keturunan perantau Kerinci di Malaysia ada yang menjadi pejabat kerajaan seperti Rina Harun (keturunan Lempur) Menteri Pembangunan Luar Bandar dan Dato Sri Haznah Maslan (keturunan Sungai Tutung) menjadi Timbalan Menteri SDM.

Datuk Setia H. Muhammad Isa bersama warga keturunan Kerinci di Malaysia dalam suatu kesempatan silaturahmi dengan walikota Sungai penuh H. Asyafri Jaya Bakri ( fhoto/ist)

Jabatan lain yang pernah dipegang oleh keturunan Kerinci di Malaysia adalah Gubernur Selangor, Pengarah Kastom Malaysia, dan Pengarah Bidang Pendidikan. Paman dari nenek H. Syahrudin Semat, H. Moh. Said, juga seorang perantau di Malaysia. Salah seorang keturunannya yaitu Dato Setia Haji Moh. Isa, pernah menjabat sebagai Kepala Polisi (Kapolda) di Malaysia. Beliau seringkali berkunjung ke Kerinci dan aktif mengikuti kegiatan komunitas Kerinci di Tanah Air.

Dato Setia Haji Moh. Isa, pernah menjabat sebagai Kepala Polisi (Kapolda) di Malaysia. Beliau seringkali berkunjung ke Kerinci dan aktif mengikuti kegiatan komunitas Kerinci di Tanah Air dan tercatat sebagai tokoh HKKN Malaysia ( fhoto/ist)

Di tiap wilayah kerajaan Malaysia masyarakat Kerinci membentuk komunitas seperti di Ulu Langat, Ulu Selangor, Kuantan, Kuala Lumpur, Pahang, dll. Saat ini semua komunitas dipayungi oleh HHK-Malaysia, Persatuan Bangsa Kerinci Malaysia, dan Kerinci Bersatu Malaysia.
Di dalam negeri orang Kerinci menyebar di wilayah Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, dan Riau. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, warga Kerinci mulai menyeberang ke Pulau Jawa, terutama Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Tujuan mereka merantau adalah untuk meningkatkan taraf hidup seperti mencari pekerjaan dan melanjutkan pendidikan. Di beberapa tempat, jejak para perantau Kerinci zaman dulu masih berbekas seperti Kampung Kerinci di Malaysia, Pangkalan Kerinci di Propinsi Riau, dan Jalan Kerinci di kawasan Mayestik Jakarta.

Mulai pertengahan tahun 1950-an, apalagi setelah Kerinci menjadi bagian Propinsi Jambi, arus orang Kerinci ke luar daerah dan luar negeri semakin bertambah dan menyebar. Di Malaysia dan luar daerah (Sumbar, Jambi, Riau, Bengkulu, Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta), warga Kerinci mulai membentuk komunitas.

Pada tahun 1955, komunitas Kerinci di Jakarta membentuk organisasi yang diberi nama Himpunan Keluarga Kerinci (HKK). Di Sumbar, Jambi, Riau, Bengkulu, Jawa Barat, dan Yogyakarta tidak banyak informasi yang saya ketahui kapan organisasi HKK terbentuk, apa kegiatannya, dan siapa saja pengurusnya.

Sampai awal dekade 1970, kegiatan utama komunitas warga Kerinci di luar daerah adalah silaturahim. Setelah Bupati Kerinci dijabat oleh Bapak Rusdi Sayuti, pada tahun 1974 beliau mengundang tokoh-tokoh Kerinci luar daerah untuk mulai memikirkan pembangunan di kampung halaman. Hal ini dipicu oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat yang sangat memprihatinkan selama pemerintahan orde lama.

Pada awal era reformasi tahun 1998, komunitas Kerinsi (HKK) semakin solid. Mereka menuntut berbagai perobahan mendasar dalam kepemimpinan dan pembangunan di tanah kelahirannya Kabupaten Kerinci. Setelah adanya Masyarakat Peduli Kerinci (MPK) tahun 2007 yang kemudian bermutasi menjadi Himpunan Keluarga Kerinci Nasional (HKKN) pada tahun 2018, gerakan masyarakat Kerinci di luar daerah dan luar negeri semakin kokoh dan berkembang sampai saat ini.

Baca Juga  Buka Acara Jambi Future Talks, Ini Pesan Ketum BMKJ Untuk Milenial Jambi

KONDISI KERINCI TAHUN 1960-AN

Syahrudin Semat menceritakan, Selama dekade 1960-an kondisi sosial ekonomi masyarakat di Kerinci makin merosot. Sejak bergabung dengan Propinsi Jambi tahun 19581), ditambah situasi politik hukum dan keamanan yang tidak kondusif, pembangunan di Kabupaten Kerinci tidak berlangsung sebagaimana diharapkan. Ekonomi masyarakat anjlok. Infrastruktur fisik, ekonomi, sosial, budaya terabaikan. Kalau mau ke Kota Jambi, harus berjalan kaki dulu ke Bangko selama 3 hari.

“Ini saya alami sendiri pada tahun 1960 ketika akan melanjutkan sekolah di Jawa. Jalan Kayu Aro-Muara Labuh belum dibangun,” terang Syahrudin

Diceritakannya, Satu-satunya akses jalan ke luar daerah adalah jalan Kerinci-Padang melalui Pesisir Selatan, tetapi rusak berat akibat peristiwa PRRI. Jembatan banyak yang ambruk sehingga harus menggunakan rakit untuk penyeberangan. Badan jalan berlumpur dan berlubang.Di beberapa tempat badan jalan sudah turun sedalam 2 meter, seolah-olah melewati terowongan.

“Kondisi seperti ini terus terbiarkan sampai awal tahun 1970-an dan ini saya alami sendiri waktu baleik Kincai tahun 1969,” tambahnya.

Setelah negeri ini diambil alih pemerintahan orde baru paparnya, peranan ABRI dalam pemerintahan, baik di pusat maupun di daerah, makin kuat karena didukung konsep “dwi-fungsi”. Pembangunan yang berlandaskan “trilogi” (stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan) dilaksanakan secara terarah, terstruktur dan berkelanjutan, dimulai dengan Rencana Pembangunan Lima Tahunan I (1968/1969-1973/1974). Hasilnya, kondisi lingkungan fisik, sosial dan ekonomi mulai membaik, terutama di daerah perkotaan. Kemajuan ini sangat dirasakan oleh masyarakat, termasuk warga Kerinci yang tinggal di sana. Berbeda dengan di daerah Kerinci sendiri. Perobahan belum begitu tampak, apalagi dirasakan oleh masyarakat. Ketika pulang ke Kerinci mereka menyaksikan dan merasakan jauhnya ketertinggalan pembangunan di tanah kelahiran yang dikenal sebagai “Sekepal Tanah Syorga Yang Tercampak Ke Bumi”.

MEMADUKAN POTENSI WARGA KERINCI

Lebih lanjut diceritakan oleh H. Syahrudin Semat,Melihat kondisi yang memprihatinkan tersebut, warga Kerinci yang bermukim dan bekerja di perantauan mulai menyadari bahwa mereka harus turun gunung untuk membantu pembangunan di Ranoh Kincai tanah kelahiran mereka, apakah berupa pemikiran, program, dan lain-lain.

H. Syahrudin Semat aktif mengikuti berbagai seminar Nasional , kontribusinya terhadap lingkungan sangat besar termasuk diantaranya mengembangkan pohon Pinus di Kerinci ( fhoto/ist)

Di kala Bapak Rusdi Sayuti, BA menjadi Bupati Kerinci (1972-1977), pada tahun 1974 beliau mengundang Bapak Ali Murtopo, Asisten Pribadi Presiden Suharto berkunjung ke Kerinci agar menyaksikan sendiri ketertinggalan pembangunan di daerah Kerinci. Dengan pesawat Garuda, Bapak Ali Murtopo datang bersama rombongan melalui Jambi.
Pada kesempatan yang sama, Bapak Rusdi Sayuti mengundang pula cendekiawan Kerinci di luar daerah untuk bersama-sama membahas dan memikirkan pembagunan di kampung halaman.

“Saya juga mendapat undangan sebagai pembicara, karena saat itu saya mengajar di Institut Pertanian Bogor. Ketika berangkat dari Jakarta ke Jambi kebetulan satu pesawat dengan rombongan Bapak Ali Murtopo. Akhirnya saya, tanpa direncanakan, mengikuti terus rombongan sampai ke Kerinci,” terang Syahrudin Semat

Perjalanan dari Jambi ke Kerinci ujarnya,sangat berat dan melelahkan karena harus melalui badan jalan yang baru dibuka dan belum diperkeras. Di salah satu tempat yang dikenal dengan “batu Namora”, rombongan harus berhenti dan melintas satu per satu karena jalan yang sempit di tepi tebing yang curam.

Baca Juga  Bentuk kepedulian Satgas TMMD membantu warga membuat Jamban di Desa Sungai Ning*

“Sekitar pukul 20.00 wib rombongan tiba di Kerinci dan istirahat di fasilitas Pemda. Saya pulang ke rumah orang tua,” terangnya lagi.

Esok paginya pukul 09.00 wib sebut Syahrudin, bertempat di gedung Nasional Sungaipenuh, acara dimulai dengan ceramah umum Bapak Ali Murtopo. Semua rombongan dari luar daerah, anggota rombongan pejabat, tokoh dan cendekiawan Kerinci, serta aparat pemerintah Kabupaten sudah memenuhi ruangan gedung.

Disebutkannya Dalam ceramahnya yang cukup kritis, beliau menekankan 3 (tiga) syarat agar daerah cepat maju dan berkembang. Pertama, terkendalinya ketertiban dan keamanan; kedua, adanya perencanaan yang baik; ketiga, perlunya partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Kalau negara tidak aman dan masyarakat tidak tertib, pembangunan tidak bisa berlangsung. Kalau perencanaan tidak terarah dan tidak terstruktur, tujuan yang ingin dicapai bisa meleset.

Bila masyarakat tidak dilibatkan dalam proses pembangunan, hasil pembangunan tidak akan optimal.

Pada hari kedua, di tempat yang sama, diadakan seminar untuk membahas permasalahan dan pembangunan di Kerinci. Topik yang dibahas antara lain prasarana jalan, pendidikan, ekonomi, dan kehutanan.

Karena Syahrudin merupakan lulusan Fakultas Kehutanan, IPB, ia juga ikut diminta membahas masalah pembangunan bidang kehutanan.

“Dalam makalah yang saya sajikan, saya uraikan 3 fungsi pokok hutan, yaitu fungsi proteksi, fungsi rekreasi, dan fungsi produksi.

Disebutkan Syahrudin,Karena topografi daerah yang berbukit-bukit, pembangunan bidang kehutanan di Kerinci harus ditekankan pada pengembangan fungsi proteksi dan rekreasi. Fungsi proteksi meliputi perlindungan terhadap tata air, tata iklim dan plasma nutfah. Fungsi rekreasi adalah pemanfaatan keindahan, keragaman alamiah dan kenyamanan lingkungan. Sedangkan fungsi produksi diarahkan pada komoditi bukan kayu (non-wood products) yaitu buah-buahan (kopi, cengkeh, jeruk, dan lain-lain), madu, getah, daun untuk obat (pohon kelor), dan sebagainya.

Sampai dengan tahun 50-an, selain tumbuh subur di wilayah perbukitan, pohon Pinus ditanam di sekeliling lapangan Merdeka, sehingga terlihat hijau, indah dan nyaman. Akibat tidak dirawat dan terus diambil kayunya, maka pada awal tahun 70-an, bukit-bukit yang mengelilingi ranoh Kincai sudah menjadi alang-alang, sehingga terlihat berwarna kuning, tidak hijau lagi. Di beberapa tempat masih ada sedikit pohon Pinus. Sayangnya, tidak ada upaya untuk memelihara maupun mengembangkannya. Melihat keadaan tersebut, ketika kembali ke Bogor, Syahrudin yang sangat peduli dengan Kerinci ini meminta bibit Pinus di Pusat Pembibitan Kehutanan Bogor.

“Bibit ini saya bawa ke Kerinci ketika saya pulang bulan berikutnya, dan langsung saya serahkan kepada Kepala Dinas Kehutanan untuk dikembangbiakkan. Alhamdulillah, setelah beberapa tahun, tanaman Pinus sudah menghijau,” kenang Syahrudin Semat.

Selama periode 1970-1990, Kabupaten Kerinci mengalami 5 (lima) kali pergantian Bupati, tiga diantaranya adalah putra Kerinci, yaitu Bapak Rusdi Sayuti BA (1972-1977); Bapak Drs. H. Mohd. Awal (1983-1988); Bapak Drs. Hasmi Mukhtar (1988-1993). Pada periode tersebut telah berhasil dibangun dan ditingkatkan akses jalan yang merupakan urat nadi sosial ekonomi masyarakat Kerinci, yaitu jalan Kerinci-Padang melalui Muaro Labuh dan Jalan Kerinci-Bangko. Kegiatan ekonomi, sosial, budaya masyarakat dan daerah Kerinci mulai tumbuh.  Bersambung……….

Editor : Lemy yose

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here