BATAS ANTARA ISLAM DENGAN KAFIR ADALAH SHALAT.

0
1778

(Tauziyah)

“Inna bainar rojuli islam wa bainas syirki wal kufri tarkas sholati”.

Artinya:

“BATAS ANTARA ISLAM DENGAN KAFIR ADALAH SHALAT.”

Mana yang kafir dan mana yang islam ?

Mengenal sifat KAFIR dan Islam(Mukmin).

Firman Tuhan:

QS(64)2:

“Huwal ladzii khlaqakum fa minkum kaafiruw wa minkum mu’minuw wallaahu bi maa ta’maluuna bashii.”

Artinya:

DIA YANG MENJADIKAN KAMU:

DI ANTARA KAMU (bukan di antara kamu-kamu, tetapi di dalam diri kamu masing-masing),

“ada yang KAFIR”

dan

“ada yang MUKMIN”(Yang datang daripada Allah dan akan kembali kepada Allah-yang mau diselamatkan); innalillaahi wa inna ilaihi rajiun. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

1. Mengenal sifat KAFIR.

*Sifat Manusia*:

Firman Tuhan:

QS(100)6:

“Innal insaana li rabbihii la kanuud”,

Artinya:

“sesungguhnya MANUSIA itu “KAFIR”(bahasa Arab – engkar bahasa kita) KEPADA TUHANNYA.”

Firman Tuhan:

QS(70)19-20:

“Innal insaana khuliqa haluu’aa. Idzaa massahusy syarru jazuu’aa.”

Artinya:

“MANUSIA itu BERSIFAT KELUH KESAH, SUKA MENANTANG,

KALAU DIA SUSAH, BERPUTUS ASA, KALAU dia MENDAPAT KAYA DIA KIKIR.”

*MANUSIA UMAT YANG SATU*

Firman Tuhan:

QS(21)92:

“Inna hadzihii ummatukum ummataw waahidataw wa ana rabbukum fa’buduun.”

Artinya:

“Sesungguhnya inilah agamamu, AGAMA YANG SATU, dan AKULAH TUHANMU, maka SEMBAHLAH AKU.”

Firman Tuhan:

QS(23)52:

“Wa inna haadzihii ummatukum ummataw waahidataw wa ana rabbukum fat taquun.”

Artinya:

“Dan Sesungguhnya MANUSIA ITU UMAT YANG SATU, TUHANNYA SATU, maka bertaqwalah kepadaKu.”

2 *Siapa Mukmin*? (Islam)

Abdi di fi qalbil mu’miniin.

“HAMBAKU DALAM HATI MEREKA NAMANYA MUKMIN”.

Dia tidak laki-laki tidak perempuan; berada di dalam dada laki-laki dan dalam dada perempuan.

Namanya : Ruh/mukmin”, ada di dalam dada setiap manusia dimana ada berada yang tidak membedakan bangsa dan bahasanya.

*MUKMIN pun BERSAUDARA*

Firman Tuhan:

QS(49)10:

“Innamaal mu’minuuna ikhwatun fa-ashlihuu baina akhawaikum waattaquullaha la’allakum turhamuun(a).”

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang *Mukmin itu bersaudara*, karena itu *damaikanlah antara kedua saudaramu*, dan *bertaqwalah kepada Allah*, supaya kamu *mendapat rahmat*.”

Maka dari itu Syak-Wasangka itu DOSA:

Firman Tuhan:

QS(49)11-12:

“Ya ayyuhal ladz’iina aamanuu laa yaskhar qaumum min qaumin ‘asaa ay yakuunuu khairam minhum wa laa nisaaum min nisan-in ‘asas ay yakunna khairamminhunna wa laa talmizuu anfusakum wa laa tanaabazuu bil alqaabi bi’sal ismul fusuuqu ba’dal iimaani wa mal lam yatub fa ulaa-ika humuzh zhaalimuun.
Yaa ayyuhal ladziina aamanuj tabibuu katsiiram minazh zhanni inna ba’dhazhzhanni itsmuw wa laa tajassasuu wa laa yaghtab ba’dhukum ba’dhan a yuhibbu ahadukum ay ya’kula lahma akhiihi maitan fa karihtumuuhu wat taqullaaha innallaaha tawwaabur rahiim.”

Artinya:

“Hai sekalian orang-orang yang beriman, janganlah satu kaum mengolok-olokkan kaum yang Iain, boleh jadi mereka (kaum yang mengolok-olokkan itu) lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokkan), dan jangan (pula) perempuan-perempuan mengolok-olokkan perempuan-perempuan (yang lain), boleh jadi perempuan-perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokkan), dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk, seburuk-buruk Nama (panggilan) ialah panggilan fasik sesudah beriman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya SEBAHAGIAN PRASANGKA ITU ADALAH DOSA.

Dan janganlah kamu mencari keburukan orang dan janganlah sebahagian kamu menggunjing atas sebahagian yang lain. Adakah di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang mati?

Maka kamu membencikannya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Baca Juga  Europe They Call it Own Country for Nothing 2018

Firman Tuhan:

QS(5)32:

“Min ajli dzaalika katabnaa ‘alaa banii israa-iila annahuu man qatala nafsam bi ghairi nafsin au fasaadin fil ardhi fa ka annamaa qatalan naasa jamii’aw wa man ahyaahaa fa ka annamaa ahyan naasa jamii’aw wa la qad jaa-at-hum rusulunaa bii bayyinaati tsumma inna katsiiram minhum ba’da dzaalika fil ardhi la musrifuun.”

Artinya:

“Karena itu Kami tetapkan kepada Bani israil bahwa yang membunuh seorang manusia bukan karena hukuman pembunuhan, atau karena membuat bencana di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang MEMELIHARA KEHIDUPAN SEORANG MANUSIA, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupap manusia seluruhnya. Dan sesungguhnya telah datang rasul-rasul Kami kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan, kemudian sesungguhnya banyak di antara mereka sesudah itu melampaui batas di bumi.”

*Bagaimana mengenal perbedaan sifat manusia (kafir) dan mukmin*?

Allah memberikan “HATI” kepada setiap manusia yang disebut NIKMAT = ZAT atau RASA ; disaat Allah meniupkan Ruh.

Firman Tuhan:

QS(32)9:

“Tsumma sawwahu wa nafakha fiihi mir ruuhihii wa ja’ala lakumus sam’a wal abshaara wal af idata qaliilam maa tasykuruun.”

Artinya:

“Aku SEMPURNAKAN KEJADIAN MANUSIA,
AKU TIUPKAN RUH, AKU BERIKAN “PENDENGARAN” (bukan TELINGA), “PENGLIHATAN” (bukan MATA) DAN “HATI” = NIKMAT (BUKAN segumpal hati – organ hati).

NAMUN SEDIKIT SEKALI MANUSIA BERTERIMA KASIH.”

Melalui nikmat, zat atau rasa inilah kita mengenal SUARA HATI.

Melalui “Suara hati yang negatif” itulah, sifat yang dapat kita merasakan adanya *SIFAT MANUSIA tsb*.

Dapat didengar melalui suara hati berupa:

*Ajib-Ria-Takabur-Iri Dengki Hasut Fitnah-Tamak-Loba dan Sombong,* *Pembohong*, *Mudah marah*, *Mudah tersinggung dll.*

*Sifat Mukmin-(Islam)*:

SIDDIQ AMANAH TABLIGH FATHANAH”.

Selalu bersuara positif.
Juga dapat diketahui melalui suara hati oleh setiap manusia.

Tandanya:

“SENANTIASA MELARANG MANUSIA BERBUAT YANG TIDAK BAIK”.

Pertentangan antara SIFAT MANUSIA dengan sifat RUH (mukmin) ini; maka terbentuklah suara hati:

*SYAK WASANGKA dan RAGU (GALAU)*.

*Inilah yang mau diselesaikan pada setiap DIRI manusia supaya keraguan tadi dapat terkendali.*

*Bagaimana mewujudkannya-menyelesaikannya*?

*Pergunakanlah Hawa Nafsu Dunia Syetan untuk kemenangan-kesenangan dan kebahagiaan mukmin dalam dada.*

Maka dari itu kita umat Islam diwajibkan ber-PUASA, dilatih satu bulan utk dipakai satu tahun( mempuasakan hawa-nafsu-dunia-shetan), agar tercapai TAQWA.

*PENJELASANNYA*:

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa masing-masing manusia dapat merasakan adanya:

“Sifat HAWA NAFSU DUNIA SYETAN”

dan

Sifat “SIDDIQ AMANAH TABLIGH FATHANAH”, melalui suara hati.

Bentuk suara hati itu: Ajib-ria-takabur-iri-dengki-hasut-fitnah-tamak-loba-sombong.

Nyata dalam perbuatan:

TIDAK MAU KELINTASAN,

TIDAK MAU KERENDAHAN,

TIDAK MAU KEKURANGAN,

TIDAK MAU KALAH.

Manifestasinya:

1. Mudah tersinggung,
2. Mudah marah,
3. Pembohong-pendusta,
4. Penghasut-fitnah,
5. Pemarah-mengamuk-membanting,
6. Benci-dendam,
7. Suka bersandiwara; berpura-pura,
8. Putus asa,Suka tergesa-gesa dalam menyimpulkan sesuatu; melalui apa yang didengar dan dilihatnya,

9. Malas mengerjakan shalat-sembahyang,

10. Sikapnya tidak jelas-mudah berubah-rubah dll; yang semua itu dapat *DISADARI-DIKETAHUI* oleh masing-masing manusia melalui *SUARA HATI* nya.

Setelah kita sadari adanya sifat di atas, maka kita *wajib menegakkan mendirikan sifat Siddiq Amanah Tabligh Fathanah*

Ruh/Mukmin dalam dada kita belum selamat/islam; tapi baru cenderung kepada islam; sebagaimana dalam doa Iftitah:

“Inni wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal-ardha, haniifam muslimaw wamaa ana minal musyrikiin.

Inna shalaati wanusukii wamah yaaya wama maatii lillaahi rabbil ‘alaamiina.

Baca Juga  Fashion Photography Helps Raising Funds

Laasyariika lahu wabidzaalika umirtu wa ana minal muslimiina.”

Artinya:

Menghadap aku akan muka bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi; hal keadaan CENDERUNG AKU kepada agama islam; dan aku tidak tergolong orang yang musyrik, yang mensyarikati Allah.

Sesungguhnya hidupku matiku shalatku ibadahku bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.

Tiada berserikat bagimu, dan aku termasuk orang-orang yan muslim/selamat.

Bagaimana agar ruh/mukmin itu islam ?

*INGAT DAN SHALAT*.

Ingat Allah; Allah TIDAK BERUPA TIDAK BERBENTUK, bagaimana mengingatnya ?

*Tentu yang di-ingat RASUL, Alamatnya di BAITULLAH*.

*Kita belum kenal Allah, bila tidak diutus Rasul, yang diajarkan AYAHanda kpd kita ; tentu kita dibawa kepda Allah dan RasulNya.*

Yang SHALAT ITU MUKMIN,

Untuk mencapainya, kuncinya:

“NIAT dan TERTIB”.

*Oleh karena itu, kita melatih diri kita untuk senantiasa menertibkan substansi kekafiran-keengkaran tadi melalui SUARA HATI.*

*BAGAIMANA*?

Menyengaja-meniatkan untuk menertibkan suara NEGATIF itu, dengan lebih dulu INGATAN kita di BAITULLAH, sebelum MELAKUKAN SESUATU.

*INGAT RASUL DI BAITULLAH itulah MUKMIN dalam SHALAT*.

*Bila lupa INGAT, maka kembali lagi kepda SIFAT MANUSIA HNDS*: tidak mau kelintasan, tidak mau kerendahan, tidak mau kekurangan, dan tidak mau kalah.

Maka dalam Qur’an dikatakan:
Ingatlah ketika kami menjadikan humah itu Baitullah, TEMPAT PULANG PERGI BAGI MANUSIA. DAN AMAN ……, ambil sebagian maqom Ibrahim untuk tempat sholat, :

TEMPAT PULANG PERGI, artinya: *INGATANNYA YANG PULANG PERGI BERADA DI BAITULLAH*.

Tentu hasilnya:

*TIDAK ADA GADING YANG TIDAK RETAK ; artinya: TIDAK MUNGKIN INGATAN KITA selalu BERADA DI BAITULLAH.*

*Karena itu KESALAHAN-KHILAF dan Lupa itu WAJAR*.

Itulah sebabnya kita diperintahkan Allah:

*Untuk berbuat baiklah sesama manusia, sebagimana Allah berbuat baik kepada semua manusia,*

*Sebelum orang minta maaf, kita memaafkanya lebih dulu*.

*Suka memaafkan kesalahan orang lain, karena kitapun suka ALPA-lupa akan sesuatu*.

*Kesimpulan:*

1. Hendaknya kita semua kembali kepada sifat SIDDIQ AMANAH TABLIGH FATHANAH, jangan ikuti langkah-langkah SYETAN itu, jangan diberi kesempatan sedikitpun-jangan dibiarkan kesempatan sedetikpun suara negatif itu berkuasa (HAWA NAFSU DUNIA SYETAN),

2. Shalat TIDAK BOLEH DITINGGALKAN, Sebab Kalau kita tidak tahu alamat mendirikan shalat; substansi yang kafir akan tetap menjadi personalitas manusia itu; tidak mau kelintasan, tidak mau kerendahan, tidak mau kekurangan dan tidak mau kalah,

Yang islam itu yang 4 sifat-(SATF); ingat NIKMAT Allah atas kamu. nikmat-zat-rasa itu bersuara. Suara hati kita dengar pada masing-masing diri kita.

Untuk itu maka perlu *TIMBANG RASA*:
rasa itu ditimbang, jgn cepat dikatakan itu baik atau buruk, tentu melalui suara hati; baik buruknya, sebelum mengata-melakukan sesuatu,

Kata “ORANG TUA DULU”:

“PIKIR ITU PELITA HATI;

TIDAK DIPIKIR MERUSAK DIRI;

TERLALU DIPIKIR BINASA DIRI.”

3. Jadi kalau kita di dunia kita malas – tidak mau mendirikan kebenaran – mendirikan shalat, otomatis tidak tegak-berdiri sifat Siddiq Amanah Tabligh Fathanah(SATF) pada diri kita.

Maka tampak pada perbuatan dan perilaku diri kita; tentu anak kita juga tentu akan mencontoh perbuatan-perilaku orang tuanya.

Umpamanya malas mengerjakan shalat; otomatis si anakpun akan mencontoh dan mengulangi perbuatan orang tuanya. Jangan menyesal apabila di kemudian hari si anak menjadi anak yang sesuai pula dengan apa yang dicontohkan oleh orang tuanya.

Demikian sebagai bahan pertimbangan, guna memperoleh kebenaran yang sesungguhnya.

Wass wr wb.

AR Yusuf
Bekasi, 16-11-2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here