TSUNAMI dan Early Warning (peringatan Dini)

0
718

Oleh : Akmaluddib Thalib ( dosen Geologi Universitas Gadjah Mada )

Tsunami adalah perpindahan badan air yang disebakan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut atau hantaman meteor di laut.

Jika akan terjadi Tsunami, trus siapa yang bertugas memberi peringatan ke Masyarakat?
Umumnya orang tentu akan menjawab BMKG.

BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), mempunyai status sebuah Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND), dipimpin oleh seorang Kepala Badan.
BMKG mempunyai tugas : melaksanakan tugas pemerintahan di bidang Meteorologi, Klimatologi, Kualitas Udara dan Geofisika sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Silakan cek di laman: http://www.bmkg.go.id/profil/?p=tugas-fungsi

Salah satu sebab tsunami adalah gempa bumi, BMKG mempunyai alat geofisika (seismograf) yang funginya untuk mendeteksi jika terjadi goncangan gempa bumi. Sehingga fungsi BMKG juga untuk menginformasikan ke masyarakat jika terjadi gempa termasuk bencana “ikutan” gempa, yaitu tsunami. Itulah kenapa informasi gempa tektonik yang terjadi di laut selalu diikuti dengan informasi Potensi Tsunami. Dengan sistem dan software yang dimiliki BMKG informasi tsunami bisa dikeluarkan oleh BMKG kurang dari 5 menit setelah gempa bumi.

Baca Juga  BATAS ANTARA ISLAM DENGAN KAFIR ADALAH SHALAT.

Early Warning (Peringatan Dini)
Bumi itu dinamis, makanya tidak lah mudah memberikan peringatan dini (early warning system).
Tsunami akibat gempa umumnya jika memenuhi kriteria berikut ini: lokasi gempa di laut, kekuatan gempa >7SR, mekanisme gerakan sesar vertikal.

Disamping parameter diatas, potensi tsunami akan lebih akurat dengan tambahan data BUOY dan Tide Gauge. Buoy adalah “pelampung” pendeteksi tsunami yang diletakkan di tengah laut, dioperasikan oleh BPPT sedangkan Tide Gauge adalah pengukur gelombang pasang yang diletakkan di dekat pantai yang dioperasikan oleh BIG/Bakosurtanal.

Yang perlu diingat Buoy dan Tide Gauge, datanya tidak di BMKG tapi di BPPT dan BIG, jadi jika ada ketidakakuratan dalam penyampaian informasi tsunami bisa dimaklumi, apalagi tsunami yang diakibatkan selain dari gempa bumi, seperti halnya tsunami Selat Sunda. Bu Prof Dwikorita Karnawati dan Pak Daryono Bmkg bisa mengkonfirmasi jika saya salah.

Tsunami Selat Sunda tidak disebabkan oleh gempa bumi tapi akibat letusan Gn Anak Kratau yang mengakibatkan terjadinya longsor bawah laut. Aktivitas Gn. Anak Kratau ini sudah terpantau dengan baik oleh Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dibawah Badan Geologi.

Baca Juga  Apple iPad Pro [review]: A Powerful iPad Experience

Walau fungsi dan instansi yang berbeda, saatnya BMKG-PVMBG-BPPT-BIG saling bersinergi dalam menggunakan data, sehingga informasi bencana yang didapat oleh masyarakat cepat, valid dan akurat.

Informasi terakhir dari Bu Dwikorita Karnawati data PVMBG sudah bisa diakses oleh BMKG secara online (real time). Dengan begini, mudah2an resiko dan dampak bencana akibat tsunami bisa dikurangi dengan informasi yang lebih valid dan update.

Untuk masyarakat, tidak harus menunggu “warning” dari BMKG untuk mengungsi menghindari tsunami. Tanda alam berupa Gempa adalah sirine yang ampuh, yang didekat pantai, jika ada Gempa harus segera evakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Begitu juga masyarakat disekitar Gn Krakatau, segera menjauh dari pantai jika aktivitas Anak Krakatau meningkat, bukannnya asyik nonton dan selfie dengan latar aliran lava hehehe…..

Duka cita yang sangat mendalam untuk semua korban Tsunami Selat Sunda (Gn. Anak Krakatau).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here